Kamis, 20 Agustus 2026 Portal Resmi IPSI Kecamatan Mauk
Logo IPSI
IPSIMAUK
Pengurus Kecamatan Mauk • Kabupaten Tangerang • Banten
Sejarah & Visi Misi Perguruan
7 Perguruan Terdaftar
BEKSI H PIKAN
BHP

BEKSI H PIKAN

Sejarah
-
Visi & Misi
-
BEKSI HJ SANWANI KETUA
BHSK

BEKSI HJ SANWANI KETUA

Sejarah
-
Visi & Misi
-
CAKRABUANA MUDA INDONESIA
CBMI

CAKRABUANA MUDA INDONESIA

Sejarah
-
Visi & Misi
-
IKATAN KELUARGA SILAT PUTRA INDONESIA
IKSPI

IKATAN KELUARGA SILAT PUTRA INDONESIA

Sejarah
IKS.PI Kera Sakti (Ikatan Keluarga Silat Putra Indonesia Kera Sakti) adalah salah satu perguruan seni bela diri besar dan terkenal di Indonesia yang berpusat di Madiun, Jawa Timur. Perguruan ini memiliki keunikan karena memadukan antara seni bela diri pencak silat Nusantara dengan aliran kung fu asal Tiongkok, khususnya jurus kera. 
Berikut adalah cerita sejarah lengkap mengenai kelahiran dan perkembangan IKS.PI Kera Sakti dari masa ke masa:
1. Awal Berdiri (1980)
Perguruan ini didirikan pada tanggal 15 Januari 1980 di Jalan Merpati Nomor 45, Kelurahan Nambangan Lor, Kecamatan Mangunharjo, Kota Madiun, Jawa Timur. Pendiri sekaligus Guru Besar perguruan ini adalah R. Totong Kiemdarto (lahir 20 Oktober 1953). 
Pada awal pendiriannya, nama resmi perguruan ini bukan "Kera Sakti", melainkan IKS.PI yang merupakan singkatan dari Ikatan Keluarga Silat "Putera Indonesia". 
R. Totong Kiemdarto sendiri merupakan sosok yang tekun mempelajari berbagai ilmu bela diri. Ia belajar kung fu aliran utara (Nan Pie Ho Jien) dari para pendekar kung fu Tiongkok yang berada di Indonesia. Perpaduan ini mencakup tinju selatan (Nan) yang mengandalkan kekuatan tangan, kuda-kuda kokoh, serta bantingan, dipadukan dengan tendangan utara (Pie) yang mengutamakan kecepatan dan tendangan tinggi melompat. Selain itu, ia juga mendalami ilmu kerohanian khas Nusantara (seperti dari daerah Banten dan Jawa) untuk melengkapi ketahanan fisik dan mental para siswanya. 
2. Asal-Usul Penambahan Nama "Kera Sakti"
Pada masa-masa awal, perguruan ini hanya dikenal di sekitar wilayah Nambangan Lor, Madiun. Namun, seiring berjalannya waktu, R. Totong Kiemdarto mulai mengajarkan ciri khas jurus monyet atau kera kepada murid-muridnya. 
Ternyata, jurus-jurus kera yang unik, lincah, dan penuh tangkisan akrobatik tersebut sangat menarik perhatian masyarakat luas. Murid-murid dan masyarakat sekitar justru lebih akrab menyebut perguruan ini dengan sebutan "Silat Kera" atau "Kera Sakti" ketimbang nama aslinya. 
Untuk memudahkan identitas di tengah masyarakat sekaligus mendongkrak popularitas dan wibawa perguruan, nama resmi akhirnya disempurnakan menjadi IKS.PI Kera Sakti. 
3. Fase Penyebaran dan Perkembangan (1983–Seterusnya)
Perkembangan IKS.PI Kera Sakti mulai menunjukkan lompatan besar pada tahun 1983. Murid-murid dari angkatan pertama dan kedua mulai bergerak keluar dari lingkungan padepokan kecil untuk menyebarkan ajaran perguruan. 
Beberapa titik awal penyebaran di luar basis utama meliputi:
Lembaga pendidikan seperti SMAN 3 Madiun. 
Instansi militer seperti Lanuma Iswahyudi (Magetan). 
Wilayah sekitar Madiun seperti Dempel, Ngawi, Ponorogo, dan sekitarnya. 
Dari Karesidenan Madiun, gelombang perkembangan meluas ke berbagai kota/kabupaten di seluruh Provinsi Jawa Timur, lalu merambah ke Jawa Tengah, Yogyakarta, Jabodetabek, luar Pulau Jawa (Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Bali, Papua), hingga ke luar negeri (seperti Malaysia, Timor Leste, dan beberapa negara lainnya).
4. Falsafah dan Struktur Organisasi
IKS.PI Kera Sakti tidak hanya mengajarkan teknik fisik bertarung, tetapi juga menitikberatkan pada pembentukan mental, budi pekerti, dan kerohanian yang berlandaskan Pancasila. 
Perguruan ini memegang teguh semboyan dan falsafah yang terkenal di kalangan anggotanya:
Motto: "Keempat penjuru mencari saudara, tetapi kalau musuh ada, pantang tunduk kepala." 
Falsafah: "Warga IKS dapat patah tangannya, dapat patah kakinya, tetapi tidak dapat ditaklukkan selama tidak patah IKS-nya." 
Salam Perguruan: "Jien Sho" (salam kehormatan khas perguruan).
Untuk mencetak kader yang tangguh, IKS.PI Kera Sakti menerapkan sistem jenjang tingkatan sabuk yang ketat, mulai dari Tingkat Dasar I (Sabuk Hitam), Tingkat Dasar II (Sabuk Kuning), Warga Tingkat I (Sabuk Biru), Warga Tingkat II (Sabuk Merah), hingga Warga Tingkat III (Sabuk Merah Strip Emas). 
5. Masa Modern dan Pendirian Padepokan
Setelah R. Totong Kiemdarto wafat, kepemimpinan dan estafet perkembangan perguruan dilanjutkan oleh Ketua Umum, salah satunya diteruskan di bawah kepemimpinan Bambang Sunarja bersama jajaran pengurus pusat lainnya.
Di bawah kepengurusan modern, IKS.PI Kera Sakti mendirikan sebuah kompleks Padepokan Agung yang megah di Madiun. Padepokan ini menjadi pusat kegiatan nasional, tempat pengesahan warga baru (wisuda tingkat), serta pusat silaturahmi jutaan anggota (yang sering disebut sebagai JubAG atau anggota IKS.PI di seluruh dunia). 
Kini, IKS.PI Kera Sakti tumbuh menjadi salah satu organisasi pencak silat terbesar di Indonesia dengan jutaan anggota yang berasal dari berbagai latar belakang suku, ras, dan agama yang berbeda, menjadikannya simbol persatuan melalui seni bela diri.
Visi & Misi
-
PENCAK SILAT CEMPAKA PUTIH
PSCP

PENCAK SILAT CEMPAKA PUTIH

Sejarah
-
Visi & Misi
-
PERGURUAN PENCAK SILAT TERUMBU BANTEN
PSTB

PERGURUAN PENCAK SILAT TERUMBU BANTEN

Sejarah
Historisitas Aliran Silat Terumbu Banten

Eksistensi aliran silat Terumbu Banten telah melalui perjalanan dan perpaduan peradaban panjang antara seni bela diri, dakwah spiritual, dan perjuangan mental. Aliran pencak silat ini diyakinin telah ada sejak abad ke-15. Adalah Ki Datul Khofi dan Ki Beji, sosok yang terkenal, terkemuka dan termasyhur sebagai tokoh cikal bakal berkembangnya silat aliran ini. Keduanya merupakan guru dan murid yang sama-sama tinggal dan menetap di Kampung Terumbu, Kasemen, Serang, Banten, yang kemudian nama kampung ini pula yang melatarbelakangi nama aliran pencak silat ini.
Konon, di masa hidupnya Ki Datul Khofi dan Ki Beji memanfaatkan seni bela diri sebagai media dakwah kultural yang halus untuk menanamkan nilai-nilai keagamaan tanpa menimbulkan resistensi. Ki Datul Khofi dan Ki Beji secara cerdas menyisipkan filosofi huruf hijaiyah (huruf qu'an) ke dalam penamaan jurus dasarnya.
Seiring dengan berdirinya Kesultanan Banten, efektivitas aliran silat Terumbu Banten bertransformasi dari sekadar media dakwah menjadi media pertahanan Kesultanan Banten. Berdasarkan cerita turun temurun, Sultan Maulana Hasanuddin memberi kepercayaan kepada Ki Beji untuk menduduki posisi sebagai Panglima Perang sekaligus pelatih bela diri di Kesultanan Banten. Pada era inilah Terumbu Banten melahirkan banyak pendekar tangguh yang kemudian dikenal luas sebagai "Jawara Banten" yang punya tugas pokok menjaga kedaulatan Kesultanan Banten.
Pasca-kemerdekaan, silat aliran Terumbu Banten diwariskan secara lisan dari generasi ke generasi. Puluhan peguron atau padepokan aliran silat Terumbu Banten berdiri di berbagai pelosok wilayah dan daerah, khususnya Banten.
Sebagai aliran silat yang berbasis buday dan seni, pada tahun 2021 Perguruan Silat Terumbu Banten resmi terdaftar di Kemenkumham dan memiliki legalitas sebagai wadah tunggal Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten. Selanjutnya, pada tahun 2022 Perguruan Pencak Silat Terumbu Banten, resmi terdaftar sebagai anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Kabupaten Tangerang. Di tahun yang sama pula, Dewan Pimpinan Pusat bersma Para Guru Besarnya menyelenggarakan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) non fotmal dan menetapkan 9 Jurus Dasar (Jurus Baku 9) sebagai kurikulum wajib pelatihan dan pendidikan pada padepokan beraliran silat Terumbu Banten.
Kini, pendidikan dan pelatihan aliran pencak silat Terumbu Banten terus eksis di berbagai padepokan atau peguron. Bahkan, pendidikan dan pelatihan itu kian merambah ke dunia pendidikan formal di tingkat dasar, menengah, atas, dan perguruan tinggi. Meraih banyak prestasi dan penghargaan, mulai dari tingkat regional, nasional, bahkan sampai internasional.
Visi & Misi
-
PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE
PSHT

PERSAUDARAAN SETIA HATI TERATE

Sejarah
-
Visi & Misi
-